I tell you something

  • ask me anything
  • rss
  • archive
  • Rumput tetangga lebih hijau (?)

    Di Brunei enak banget loh, pendidikan itu gratis bahkan dikasih uang jajan, trus tiap orang jatahnya dapat satu mobil. Beda sama di Indonesia, kan.
    Tapi for your information aja, di sana kan bentuk pemerintahannya kesultanan, titah sultan berarti peraturan, meski kadang bertentangan dengan peraturan yang ada, nah loh.
    Selain itu, di sana cuma ada channel televisi pemerintah, koran pun cuma ada tiga, dua berbahasa Inggris dan satu berbahasa Melayu. Pemberitaan tentang sultan setidakpenting apapun akan menghiasi muka halaman koran tersebut. Media berbentuk civil journalism tidak diperbolehkan, kalau ketahuan ada pemberitaan pemberontakan pasti sudah dibrendel dan ditangkap.
    Mengingatkan kita pada sesuatu, huh?
    Ya, bersyukur pada reformasi :)

    • 3 weeks ago
  • “Tell me why, what’s wrong with me I wanna know. Tell me why, I don’t know.”
    — The Words, by Rosemary
    • 3 months ago
  • “Missing you is just too much, why don’t you just figure it out? You’re fading and I’m still waiting.”
    — Berlin, by The Trees and The Wild
    • 4 months ago
  • “You will never know, that I miss you. I miss you so bad. You will never realized.”
    — Me.
    • 4 months ago
  • Menangisi sepak bola tak lantas menjadikan saya seorang pecundang. Tonton film Will (You’ll Never Walk Alone) dan Anda akan tahu maksud saya.

    • 5 months ago
  • Televisi

    Sambil terus mengganti stasiun televisi, tak habisnya aku mengumpati acara televisi. Kenapa acara televisi (setidaknya yang menurutku) bagus harus ditayangkan larut malam bahkan sampai dini hari? Itupun karena deretan iklan yang makin lama makin membludak.

    Kuingat-ingat lagi…
    Pagi hari, semua stasiun televisi berlomba-lomba menayangkan acara musik (yang katanya) live—padahal penyanyi (kalau bisa disebut penyanyi, sih) cuma bisa-bisanya saja menggerakan bibir, lipsync. Sisanya kaset, dengan efek yang malah membuat aneh. Kecanggihan alat musik, katanya.
    Siang hari, disuguhi berita yang tidak kesemuanya layak dibilang berita. Maksudku, apakah jika artis ini artis itu tersangkut masalah harus diberitakan terus selama seminggu? Apa kabar negara ini? Tidak tahu.

    Memang sih, tidak semua stasiun televisi latah, yang gencar mengikuti tren. Ada beberapa yang bersaing untuk menjadi trendsetter. Maunya dicontoh, bukan mencontoh, sehingga acaranya banyak digandrungi. Tapi, apakah makin baik untuk mental para penontonnya?

    Kembali ke iklan, yuk..
    Ibuku bilang, dahulu ketika stasiun televisi cuma TVRI selayar, iklan diberi jadwal jam tertentu, sehingga tidak mengganggu acara televisi yang pokok. Sekarang? Boro-boro. Lebih lama iklannya ketimbang acaranya sendiri! Rasanya tiga perempat jam terbangku menonton televisi tak lebih untuk diracuni tawaran iklan!

    Ah, sudahlah, jangan terlalu menyesali hal itu. Toh iklan sekarang berkembang pesat. Idenya amat kreatif sehingga tidak jarang jargon-jargon iklan menambah kosakata dalam bercengkrama sehari-hari.

    Namun, bagaimana dengan stasiun televisi swasta yang dikuasai oknum tertentu? Televisi sebagai media audio-visual tentu berpengaruh lebih kuat, ketimbang, misal membaca koran. Apa yang kita lihat dan dengar akan lebih kuat dalam mempengaruhi pikiran dan jiwa, yang kemudian menimbulkan emosi tertentu. Dalam hal ini, kelemahannya adalah jika suatu pihak (yang memang berkuasa atas suatu stasiun televisi, sebut saja pemiliknya) menyalahgunakan atau sudah tidak lagi netral dalam pemberitaan seputar negara ini. Ya, politik lagi-lagi…. kalau tidak mau diambil pusing, tertawakan saja.

    Baiklah, solusinya simpel saja; kurangi nonton televisi, Nak!

    • 5 months ago
  • Senandung (ex)Pribumi

    Rasanya baru kemarin, semua orang tampak apa adanya. Mengenakan apa yang mereka suka tanpa perlu berpikir dua kali. Sudah mati rupanya, tetangga sebelah tanpa tahu apa pinta terakhir di ujung waktunya. 

    Dia, kamu, aku, mereka, masyarakat… Kita, kita tak lagi peduli pada sesama. Kepedulian tak lagi ada pada orang lain. Pramuka omong kosong. Kerepotan dalam dunia perkawanan sudah musnah. Punk tak lain hanya pencitraan yang malah diamburadulkan. 

    Kita melihat, memberi label, pada orang berdasarkan apa yang dikenakannya. Apa yang nampak darinya. Melihat dengan mata, tak lagi diberi hati.

    welcome to our society; you’ll be judge on what you wear, what you look like, and how your act! 
    • 5 months ago
    • #tought
  • 2013

    It was officialy 2013 and I decided to make something new. Well, here I am.. Hello Tumblr. Next-to-meet-you.

    • 5 months ago
© 2013 I tell you something